Blog Mas Priyo

Let's make harmony for a better future

Gempa Bumi

Published by Priyo under on 23.21

Gempa bumi adalah berguncangnya Bumi yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng Bumi, patahan aktif aktivitas gunung api atau runtuhan batuan. Kekuatan gempa bumi akibat aktivitas gunung api dan runtuhan batuan relatif kecil dibanding gempa bumi akibat tumbukan antar lempeng.

PROSES GEMPA BUMI

Lempeng samudera yang rapat massanya lebih besar ketika berumbukkan dengan lempeng benua di zona tumbukan (subduksi) akanmenyusup ke bawah. Gerakan lempeng itu akan mengalami perlambatan akibat gesekan dari selubung Bumi. Perlambatan gerak itu menyebabkan penumpukan energi di zona subduksi dan zona patahan. Akibatnya di zona-zona itu terjadi tekanan, tarikan, dan gesekan. Pada saat batas elastisitas lempeng terlampaui maka terjadilah patahan batuan yang diikuti dengan lepasnya energi secara tiba-tiba. Proses ini menimbulkan gerakan partikel ke segala arah yang disebut gelombang gempa bumi.

INDONESIA

Kepulauan Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng utama dunia yaitu Lempeng Australia, Eurasia, dan Pasifik. Lempeng Eurasia dan Australia bertumbukan di lepas pantai selatan Kep. Nusatenggara, dan berbelok ke arah utara ke perairan Maluku sebelah selatan. Antara Lempeng Australia dan Pasifik terjadi tumbukan di sekitar Pulau Papua. Sedangkan pertemuan antara ketiga lempeng itu terjadi di sekitar Sulawesi. Itulah sebabnya mengapa di pulau-pulau sekitar pertemuan tiga lempeng ini sering terjadi gempa bumi.

25 daerah rawan gempa bumi di Indonesia:
Aceh; Sumatera Utara (Simeulue); Sumatera Barat; Jambi; Bengkulu; Lampung; Banten (Pandeglang); Jawa Barat; Bantar Kawung; Yogyakarta; Lasem; Jawa Timur; Bali; NTB; Kep. Aru; Sulawesi Selatan; Sulawesi Tenggara; Sulawesi Tengah; Sulawesi Utara; Sangir Talaud; Maluku Utara; Maluku Selatan; Papua Utara; Jayapura; dan Nabire.

INTENSITAS DAN KEKUATAN GEMPA BUMI

Intensitas gempa bumi adalah tingkat kerusakan yang terasa pada lokasi terjadinya. Angkanya ditentukan dengan menilai kerusakan yang diakibatkannya, perngaruhnya pada benda-benda, bangunan, tanah, dan pada manusia. Skala ini disebut MMI (Modified Mercalli Intensity), diperkenalkan oleh Giuseppe Mercalli pada 1902.

Magnituda adalah parameter gempa yang diukur berdasarkan yang terjadi pada daerah tertentu, akibat goncangan gempa pada sumbernya. Satuan yang digunakan adalah Skala Richter, yang diperkenalkan oleh Charles F. Richter pada 1934. Gempa dengan kekuatan 8 Skala Richter setara kekuatan bahan peledak TNT seberat 1 gigaton atau 1 milyar ton.

TINDAKAN SAAT TERJADI GEMPA BUMI

Jika gempa bumi mengguncang secara tiba-tiba, berikut ini petunjuk-petunjuk yang dapat dijadikan pegangan di manapun kita berada

DI DALAM RUMAH
Getaran akan terasa beberapa saat. Selama jangka waktu itu, kita harus mengupayakan keselamatan diri kita dan keluarga (atau siapapun yang ada di rumah). Masuklah ke bawah meja untuk melindungi tubuh dari jatuhan benda-benda. Jika tidak memiliki meja, lindungi kepala dengan bantal. Jika kita sedang menyalakan kompor, matikan segera untuk mencegah terjadinya kebakaran.

DI SEKOLAH/KAMPUS dsb
Berlindunglah di bawah kolong meja, lindungi kepala dengan tas atau buku. Jangan panik. Jika gempa mereda, segera keluarlah berurutan mulai dari jarak yang terjauh dari pintu. Carilah tempat lapang, jangan berdiri di dekat gedung, tiang, atau pohon.

DI LUAR GEDUNG
Lindungi kepala dan hindari benda-benda berbahaya. Di daerah perkantoran atau industri, bahaya bisa timbul dari jatuhnya kaca-kaca atau papan reklame. Lindungi kepala dengan tangan, tas, atau apapun yang sedang dibawa.

DI MALL, BIOSKOP dsb
Jangan menyebabkan kepanikan atau menjadi korban dari kepanikan. Ikuti semua petunjuk (yang benar) dari pegawai atau satpam.

DI DALAM LIFT
Jangan menggunakan lift saat terjadi gempa bumi atau kebakaran. Jika kita merasakan getaran gempa bumi saat berada di dalam lift, tekanlah semua tombol. Ketika lift berhenti, keluarlah dan lihat keamanan situasinya, lalu mengungsilah. Jika terjebak dalam lift, hubungi manajer gedung dengan interphone jika tersedia.

DI KERETA
Berpeganganlah dengan erat pada tiang sehingga kita tidak akan terjatuh seandainya kereta berhenti mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti penjelasan dari petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta atau stasiun akan mengakibatkan kepanikan.

DI DALAM MOBIL
Saat terjadi gempa bumi besar, kita akan merasa seolah-seolah roda mobil kita gundul. Kita akan kehilangan kontrol mobil dan susah mengendalikannya. Jauhi persimpangan, pinggirkan mobil di kiri jalan kemudian berhenti. Ikuti instruksi dari radio mobil (yang menginformasikan tentang gempa yang sedang terjadi). Jika harus mengungsi maka keluarlah dari mobil.

DI GUNUNG/PANTAI
Ada kemungkinan longsor terjadi dari atas gunung. Langsung menjauhlah ke tempat aman. Bila di pesisir pantai, bahaya yang datang berasal dari tsunami. Jika merasakan getaran dan tanda-tanda adanya tsunami, cepatlah mengungsi ke dataran tinggi.


UPAYA MITIGASI GEMPA BUMI

1. Membangun bangunan (yang mengundang konsentrasi banyak manusia) dengan konstruksi tahan gempa di wilayah rawan gempa bumi;

2. Tidak membangun permukiman atau aktivitas penduduk di atas, pada, atau di bawah tebing;

3. Tidak mendirikan bangunan di atas timbunan yang tidak memenuhi tingkat kepadatan yang sesuai dengan daya dukung tanah terhadap konstruksi bangunan di atasnya;

4. Diadakan pemetaan mikrozonasi di wilayah rawan gempa bumi;

5. Perlu dibuatnya peraturan yang dituangkan dalam Perda yang berwawasan dan mempertimbangkan aspek bencana sehingga prinsip bangunan berkelanjutan dapat tercapai;

6. Membangun kewaspadaan masyarakat dan Pemda melalui pelatihan antispasi jika sewaktu-waktu terjadi gempa bumi;

7. Menyiapkan alur dan tempat evakuasi bencana;

8. Menyelenggarakan pendidikan dini melalui jalur pendidikan formal/non-formal tentang gempa bumi dan bahayanya di wilayah rawan gempa bumi;

9. Membangun alur dan tempat pengungsian serta bukit-bukit untuk menghindar dari gelombang tsunami.

Tsunami

Published by Priyo under on 23.09


Tsunami adalah rangkaian gelombang laut yang mampu menjalar dengan kecepatan hingga lebih 900 km per jam, terutama diakibatkan oleh gempabumi yang terjadi di dasar laut. Istilah ‘tsunami’ berasal dari bahasa Jepang ‘tsu’ yang artinya pelabuhan dan ‘nami’ yang berarti gelombang laut. Dari kisah inilah muncul istilah tsunami. Awalnya tsunami berarti gelombang laut yang menghantam pelabuhan.

Kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut. Di laut dengan kedalaman 7000 m misalnya, kecepatannya bisa mencapai 942,9 km/jam. Kecepatan ini hampir sama dengan kecepatan pesawat jet. Namun demikian tinggi gelombangnya di tengah laut tidak lebih dari 60 cm. Akibatnya kapal-kapal yang sedang berlayar diatasnya jarang merasakan adanya tsunami.

Berbeda dengan gelombang laut biasa, tsunami memiliki panjang gelombang antara dua puncaknya lebih dari 100 km di laut lepas dan selisih waktu antara puncak-puncak gelombangnya berkisar antara 10 menit hingga 1 jam. Saat mencapai pantai yang dangkal, teluk, atau muara sungai gelombang ini menurun kecepatannya, namun tinggi gelombangnya meningkat puluhan meter dan bersifat merusak.

PENYEBAB TERJADINYA TSUNAMI

Tsunami terutama disebabkan oleh gempabumi di dasar laut. Tsunami yang dipicu akibat tanah longsor di dasar laut, letusan gunungapi dasar laut, atau akibat jatuhnya meteor jarang terjadi.

TSUNAMI AKIBAT GEMPABUMI
Tidak semua gempabumi mengakibatkan terbentuknya tsunami. Syarat terjadinya tsunami akibat gempabumi adalah:
Pusat gempa terjadi di dasar laut; Kedalaman pusat gempa kurang dari 60 km

TSUNAMI AKIBAT LETUSAN GUNUNGAPI
Tahun 1883, letusan Gunung Krakatau di Indonesia mengakibatkan Tsunami yang dahsyat. Ketika gelombangnya menyapu pantai Lampung dan Banten, kira-kira 5000 kapal hancur dan menenggelamkan banyak pulau kecil. Gelombang setinggi 12 lantai gedung ini, kira-kira 40 m, menghancurkan hampir 300 perkampungan dan menewaskan lebih dari 36000 orang.

TSUNAMI AKIBAT TANAH LONGSOR
Sekitar 81 juta ton es dan batuan jatuh ke Teluk Lituya di Alaska tahun 1958. Longsoran ini terjadi karena guncangan gempabumi sebelumnya. Gelombang tsunami yang terbentuk akibat longsoran ini menjalar cepat sepanjang teluk. Tinggi gelombangnya mencapai 350-500 m saat melanda lereng-lereng gunung dan menyapu pepohonan dan semak belukar. Ajaibnya, hanya dua orang pemancing ikan yang tewas.


PENYELAMATAN DIRI SAAT TERJADI TSUNAMI

Sebesar apapun bahaya tsunami, gelombang ini tidak datang setiap saat. Janganlah ancaman bencana alam ini mengurangi kenyamanan menikmati pantai dan lautan.

• Jika berada di sekitar pantai, terasa ada guncangan gempabumi, air laut dekat pantai surut secara tiba-tiba sehingga dasar laut terlihat, segeralah lari menuju ke tempat yang tinggi (perbukitan atau bangunan tinggi) sambil memberitahukan teman-teman yang lain.
• Jika sedang berada di dalam perahu atau kapal di tengah laut serta mendengar berita dari pantai telah terjadi tsunami, jangan mendekat ke pantai. Arahkan perahu ke laut.
• Jika gelombang pertama telah datang dan surut kembali, jangan segera turun ke daerah yang rendah. Biasanya gelombang berikutnya akan menerjang.
• Jika gelombang telah benar-benar mereda, lakukan pertolongan pertama pada korban. Jika berada di sekitar pantai, terasa ada guncangan gempabumi, air laut dekat pantai surut secara tiba-tiba sehingga dasar laut terlihat, segeralah lari menuju ke tempat yang tinggi (perbukitan atau bangunan tinggi) sambil memberitahukan teman-teman yang lain.
• Jika sedang berada di dalam perahu atau kapal di tengah laut serta mendengar berita dari pantai telah terjadi tsunami, jangan mendekat ke pantai. Arahkan perahu ke laut.
• Jika gelombang pertama telah datang dan surut kembali, jangan segera turun ke daerah yang rendah. Biasanya gelombang berikutnya akan menerjang.
• Jika gelombang telah benar-benar mereda, lakukan pertolongan pertama pada korban.


UPAYA MITIGASI GEMPABUMI

• Membangun bangunan vital/strategis atau bangunan lainnya yang mengundang konsentrasi banyak manusia di wilayah rawan gempabumi menggunakan konstruksi yang tahan terhadap gempa.
• Tidak membangun permukiman dan aktifitas penduduk diatas, pada atau dibawah tebing
• Tidak mendirikan bangunan diatas tanah timbunan yang tidak memenuhi tingkat kepadatan yang sesuai dengan daya dukung tanah terhadap konstruksi bangunan diatasnya
• Pemetaan mikrozonasi di wilayah rawan gempa bumi
• Perlu adanya RUTR dan RTRW yang dituangkan dalam peraturan daerah yang berwawasan dan mempertimbangkan aspek kebencanaan sehingga prinsip bangunan berkelanjutan dapat tercapai
• Membangun kewaspadaan masyarakat dan pemerintah daerah melalui pelatihan antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi gempa bumi.
• Menyiapkan alur dan tempat evakuasi bencana
• Menyelenggarakan pendidikan dini melalui jalur pendidikan formal dan non-formal tentang gempa bumi dan bahayanya di wilayah rawan gempa bumi
• Membangun alur dan tempat pengungsian serta bukit-bukit untuk menghindar dari gelombang tsunami

WILAYAH RAWAN TSUNAMI DI INDONESIA
Di Indonesia wilayah rawan bencana tsunami meliputi 21 wilayah, yaitu: Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung-Banten, Jawa Tengah Bagian Selatan, Jawa Timur Bagian Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku Selatan, Biak-Yapen, Balikpapan, sekurau, Palu, Talaud, Kendari.


MITIGASI BENCANA

Sampai saat ini para ilmuwan tidak dapat meramalkan terjadinya gempabumi dan tsunami . Namun dengan melihat catatan sejarah para ilmuwan dapat mengetahui tempat-tempat yang rawan tsunami. Pengukuran tinggi gelombang dan batas landaan dari kejadian tsunami masa lalu akan berguna untuk memperkirakan dan mengurangi dampak tsunami di masa depan.

• Batu-batu pemecah gelombang. Selain batu-batu buatan, kita bisa memanfaatkan hutan bakau.
• Pembuatan bangunan tempat menyelamatkan diri.
• Pembangunan dinding penahan laju tsunami. Diperlukan kerjasama dengan ahli sipil untuk mengukur kekuatannya. Efek sampingnya, jika tidak kuat, dinding itu akan roboh terbawa arus dan lebih membahayakan masyarakat.
• Pembangunan rumah dengan tiang-tiang kokoh diatas batas tinggi gelombang tsunami.
• Selain batu-batu buatan, untuk mengurangi laju tsunami dapat diupayakan juga dengan memanfaatkan hutan bakau (Mangrove).

Tanah Longsor

Published by Priyo under on 22.52

Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor: air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.

JENIS-JENIS TANAH LONGSOR

1. Longsoran Translasi
Longsoran translasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

2. Longsoran Rotasi
Longsoran rotasi adalah bergerak-nya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung.

3. Pergerakan Blok
Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu.

4. Runtuhan Batu
Runtuhan batu terjadi ketika sejum-lah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas. Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga meng-gantung terutama di daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah.

5. Rayapan Tanah
Rayapan Tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan tiang-tiang listrik atau telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.

6. Aliran Bahan Rombakan
Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai di sekitar gunungapi. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.

GEJALA UMUM TANAH LONGSOR
Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing.
Biasanya terjadi setelah hujan.
Munculnya mata air baru secara tiba-tiba.
Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.

PENYEBAB TERJADINYA TANAH LONGSOR

Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan.

Hujan
Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Hal itu mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi retakan dan merekahnya tanah permukaan.

Ketika hujan, air akan menyusup ke bagian yang retak sehingga tanah dengan cepat mengembang kembali. Pada awal musim hujan, intensitas hujan yang tinggi biasanya sering terjadi, sehingga kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat.

Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor, karena melalui tanah yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral. Bila ada pepohonan di permukaannya, tanah longsor dapat dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan. Akar tumbuhan juga akan berfungsi mengikat tanah.

Lereng terjal
Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor adalah 180 apabila ujung lerengnya terjal dan bidang longsorannya mendatar.

Tanah yang kurang padat dan tebal
Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat dengan ketebalan lebih dari 2,5 m dan sudut lereng lebih dari 220. Tanah jenis ini memiliki potensi untuk terjadinya tanah longsor terutama bila terjadi hujan. Selain itu tanah ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah karena menjadi lembek terkena air dan pecah ketika hawa terlalu panas.

Batuan yang kurang kuat
Batuan endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan campuran antara kerikil, pasir, dan lempung umumnya kurang kuat. Batuan tersebut akan mudah menjadi tanah bila mengalami proses pelapukan dan umumnya rentan terhadap tanah longsor bila terdapat pada lereng yang terjal.

Jenis tata lahan
Tanah longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan, perladangan, dan adanya genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan persawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah dan membuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga mudah terjadi longsor. Sedangkan untuk daerah perladangan penyebabnya adalah karena akar pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan umumnya terjadi di daerah longsoran lama.

Getaran
Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempabumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalulintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak.

Susut muka air danau atau bendungan
Akibat susutnya muka air yang cepat di danau maka gaya penahan lereng menjadi hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220 mudah terjadi longsoran dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan.

Adanya beban tambahan
Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor, terutama di sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah sering terjadinya penurunan tanah dan retakan yang arahnya ke arah lembah.

Pengikisan/erosi
Pengikisan banyak dilakukan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu akibat penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.

Adanya material timbunan pada tebing
Untuk mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya dilakukan pemotongan tebing dan penimbunan lembah. Tanah timbunan pada lembah tersebut belum terpadatkan sempurna seperti tanah asli yang berada di bawahnya. Sehingga apabila hujan akan terjadi penurunan tanah yang kemudian diikuti dengan retakan tanah.

Bekas longsoran lama
Longsoran lama umumnya terjadi selama dan setelah terjadi pengendapan material gunung api pada lereng yang relatif terjal atau pada saat atau sesudah terjadi patahan kulit bumi. Bekas longsoran lama memilki ciri:
• Adanya tebing terjal yang panjang melengkung membentuk tapal kuda;
• Umumnya dijumpai mata air, pepohonan yang relatif tebal karena tanahnya gembur dan subur;
• Daerah badan longsor bagian atas umumnya relatif landai;
• Dijumpai longsoran kecil terutama pada tebing lembah;
• Dijumpai tebing-tebing relatif terjal yang merupakan bekas longsoran kecil pada longsoran lama;
• Dijumpai alur lembah dan pada tebingnya dijumpai retakan dan longsoran kecil. Longsoran lama ini cukup luas.

Adanya bidang diskontinuitas (bidang tidak sinambung)
Bidang tidak sinambung ini memiliki ciri:
• Bidang perlapisan batuan;
• Bidang kontak antara tanah penutup dengan batuan dasar;
• Bidang kontak antara batuan yang retak-retak dengan batuan yang kuat;
• Bidang kontak antara batuan yang dapat melewatkan air dengan batuan yang tidak melewatkan air (kedap air);
• Bidang kontak antara tanah yang lembek dengan tanah yang padat.
Bidang-bidang tersebut merupakan bidang lemah dan dapat berfungsi sebagai bidang luncuran tanah longsor.

Penggundulan hutan
Tanah longsor umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gundul dimana pengikatan air tanah sangat kurang.

Daerah pembuangan sampah
Penggunaan lapisan tanah yang rendah untuk pembuangan sampah dalam jumlah banyak dapat mengakibatkan tanah longsor apalagi ditambah dengan guyuran hujan, seperti yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Leuwigajah di Cimahi. Bencana ini menyebabkan sekitar 120 orang lebih meninggal.

WILAYAH RAWAN TANAH LONGSOR

Setidaknya terdapat 918 lokasi rawan longsor di Indonesia. Setiap tahunnya kerugian yang ditanggung akibat bencana tanah longsor sekitar Rp. 800 miliar, sedangkan jiwa yang terancam sekitar 1 juta.

Daerah yang memiliki rawan longsor
• Jawa Tengah: ±327 Lokasi
• Jawa Barat: ±276 Lokasi
• Sumatera Barat: ±100 Lokasi
• Sumatera Utara: ±53 Lokasi
• Yogyakarta: ±30 Lokasi
• Kalimantan Barat: ±23 Lokasi
Sisanya tersebar di NTT, Riau, Kalimantan Timur, Bali, dan Jawa Timur.


ANTISIPASI BENCANA TANAH LONGSOR

1. Jangan membuat sawah dan membuat kolam pada lereng bagian atas di dekat pemukiman.
2. Buatlah terasering (sengkedan) pada lereng yang terjal bila membangun permukiman.
3. Segera menutup retakan tanah dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam tanah melalui retakan.
4. Jangan melakukan penggalian di bawah lereng terjal.
5. Jangan menebang pohon di lereng.
6. Jangan membangun rumah di bawah tebing.
7. Jangan mendirikan permukiman di tepi lereng yang terjal.
8. Pembangunan rumah yang benar di lereng bukit.
9. Jangan mendirikan bangunan di bawah tebing yang terjal.
10. Pembangunan rumah yang salah di lereng bukit.
11. Jangan memotong tebing jalan menjadi tegak.
12. Jangan mendirikan rumah di tepi sungai yang rawan erosi.

Ada beberapa tindakan perlindungan dan perbaikan yang bisa ditambah untuk tempat-tempat hunian, antara lain:
• Perbaikan drainase tanah (menambah materi-materi yang bisa menyerap).
• Modifikasi lereng (pengurangan sudut lereng sebelum pem-bangunan).
• Vegetasi kembali lereng-lereng.
• Beton-beton yang menahan tembok mungkin bisa menstabilkan lokasi hunian.

Kelahiran Bintang

Published by Priyo under on 22.42

Matahari adalah sebuah bintang. Namun, butuh waktu ratusan tahun untuk mengetahui bahwa sebenarnya objek terterang yang kita lihat di siang hari itu sama saja dengan banyak objek ‘kecil’ yang kita lihat di langit malam, bintang.

Meskipun bintang bukan makhluk hidup, bintang mempunyai siklus kehidupan. Bintang lahir, tumbuh, dan kemudian mati. Bintang tidak tampak berubah karena bintang ‘hidup’ sangat lama, jutaan hingga milyaran tahun. Matahari kita sendiri berumur sekitar 1 milyar tahun, dan masih tetap akan bertahan hidup hingga 5 milyar tahun lagi.

Bintang memancarkan energi yang luar biasa besar. Inilah yang menjadikannya bisa terlihat dari jarak yang sangat jauh – milyar-milyaran kilometer. Energi ini dihasilkan dari reaksi antara inti-inti atom di dalam bintang.

Semua benda biasa mengandung atom, dan atom benar-benar sangat kecil. Bila 100.000 atom dideretkan dalam satu garis, garisnya tidak akan lebih panjang dari ketebalan secarik kertas. Sebuah atom terdiri dari inti utama yang sangat masif dan dikelilingi oleh partikel-partikel yang disebut elektron. Diameter sebuah atom sekitar 10.000 lebih besar dari diameter intinya, dan sebagian besar massa atom terkonsentrasi pada inti.

Pada temperatur biasa, atom bereaksi satu sama lain secara kimiawi dengan saling berbagi atau mentransfer elektron. Pada temperatur sangat tinggi (jutaan derajat), inti atom akan menyatu membentuk inti yang jauh lebih besar. Proses ini disebut penggabungan nuklir (nuclear fusion). Dalam nuclear fusion, atom-atom akan terpisah. Dua hal terpenting pada kelahiran bintang adalah nuclear fusion dan gravitasi.

Karena gravitasi, semua partikel akan saling tarik-menarik satu sama lain. Kumpulan gas raksasa yang disebut nebula pun terbentuk karena gaya gravitasi ini. Dalam nebula ini, biasanya terbentuk bintang. Partikel-partikel di dalam nebula tarik menarik satu sama lain dan kemudian menyatu menjadi objek dengan volume yang lebih kecil dan lebih kecil lagi. Terbentuklah bintang. Bintang muda biasanya banyak mengandung atom hidrogen, atom paling sederhana dan paling ringan dari semua atom.

Setelah volumenya mengecil, energi yang didapat dari gravitasi diubah untuk membentuk panas. Temperatur bintang pun naik. Bila temperatur permukaan bintang mencapai kira-kira 2.000 derajat Celcius, bintang itu akan ‘bersinar’. Penyusutan volume akan terus terjadi hingga temperatur inti bintang mencapai jutaan derajat. Pada temperatur ini, atom-atom hidrogen akan mulai menyatu membentuk atom-atom helium.

Penggabungan hidrogen membentuk helium merupakan proses yang terjadi pada sebagian besar bintang. Semakin besar massa suatu bintang, semakin tinggi temperaturnya. Bintang dengan temperatur lebih tinggi akan bersinar lebih terang. Proses penggabungan hidrogennya pun lebih cepat. Matahari kita membutuhkan waktu hingga 5 milyar tahun lagi untuk menghabiskan hampir semua hidrogennya. Bintang yang massanya tiga kali massa Matahari akan menghabiskan hidrogennya dalam setengah milyar tahun. Sedangkan bintang yang massanya setengah massa Matahari memerlukan waktu 200 milyar tahun agar hidrogennya habis.

Saat hidrogen digunakan, inti bintang akan semakin kecil, dan temperaturnya akan naik hingga 100 juta derajat. Temperatur sangat tinggi ini menyebabkan gas-gas di sekeliling inti luar menyebar besar-besaran. Bintang seperti ini kemudian dikenal dengan ‘red giant’ (bintang raksasa merah). Saat Matahari kita menjadi ‘red giant’ (5 milyar tahun dari sekarang), gas-gas Matahari akan keluar melewati orbit Bumi. Bumi kemudian akan ‘dilahap’ Matahari.

Saat inti bintang mencapai temperatur 100 juta derajat, temperatur ini tidak cukup untuk menghasilkan reaksi nuklir yang baru. Pada kondisi ini, atom-atom helium akan menyatu membentuk atom yang lebih besar bersama karbon dan oksigen (pada sebagian besar bintang raksasa, besi juga termasuk). Gas-gas di sekeliling inti akan menyebar. Bintang kemudian menjadi ‘red supergiant’ (bintang super-raksasa merah), dengan diameter melebihi orbit Jupiter. Pada kondisi ini, energi bintang dihasilkan dengan sangat cepat, namun kondisi ini tidak bertahan lama.

sumber : http://www.facebook.com/?sk=messages&ref=mb#!/?page=1&sk=messages&tid=1124017637736 (messages from astronomy freak)

Biografi Dott Sampurno (Sang Pionir Geologi Teknik Indonesia)

Published by Priyo under on 03.04

Dott Sampurno
Pionir Geologi Teknik

Dia salah seorang pionir geologi teknik dan lingkungan di Indonesia. Bidang keilmuan yang berkait erat dengan teknik sipil, bencana alam dan lingkungan. Bumi, kata guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB), ini ibarat remasan kerupuk di atas bubur panas. Di Bumi ini terdapat lebih kurang 16 keping lempeng. Pergeseran satu lempeng itu, hari Minggu, 26 Desember 2004, mengakibatkan gempa yang disusul tsunami dan merenggut ratusan ribu jiwa manusia, di antaranya di Aceh dan Sumut.

Jika diibaratkan bumi ini sebesar bola sepak, maka tanah tempat manusia menempel di atasnya ibarat kulit yang tebalnya hanya 0,7 milimeter. Kulit yang tipis itu mengapung-apung di atas massa cair kental yang pijar bersuhu tinggi. Kulit bumi yang tipis terus bergerak, bergeser, saling mendesak, mengerut dan terkoyak atau sobek di sana-sini sehingga pecah berkeping-keping. Satu di antara pergeseran lempeng tersebut terjadi hari Minggu, 26 Desember 2004, mengakibatkan gempa yang disusul tsunami.

Pria kelahiran Semarang, 2 Desember 1934, dari keluarga sederhana pasangan M Koetojo dan Ny Moendijah, ini mengaku sudah tertarik dengan ilmu kebumian sejak SMP dan SMA. Kemudian, ia memasuki Jurusan Geologi FIPIA Universitas Indonesia (UI), kini Institut Teknologi Bandung (ITB), tahun 1954. Kala itu, tempat kuliahnya bekas bedeng asrama tentara, berupa bangunan setengah bata dan setengah bilik. Ruang baca bersatu dengan ruang tata usaha sehingga selalu ramai.

Dia menyenangi bidang geologi teknik karena hasil pekerjaannya bisa cepat dievaluasi dan banyak berhubungan dengan orang banyak. Tahun 1959-1962, ia melanjutkan studi geologi di Facolta di Scienae Universitas Degli Studi, Padova, Italia. Ia meraih gelar dottore in scienze geologiche dengan tesis berjudul Studio Petrografico della zona di Contatto di Val San Valentino, Adamello.

Saat studi di Italia itu, Sampurno merasa kagum melihat karya Prof Dr Dal Piaz yang mengolah geologi jalan raya Bologna-Florence di Italia. Sehingga minatnya tentang geologi semakin tinggi.


Sekembali dari Italia, dia bertekad kuat untuk mengaplikasikan ilmunya di Indonesia. Pertama kali, Sampurno mengaplikasikan geologi teknik dalam pemugaran Candi Borobudur. Saat itu, ada tiga hal yang menjadi perhatiannya, yakni keadaan tanah, bahan baku batuan dan penyediaan air. Berkat pengabdiannya dalam pemugaran Candi Borobudur, ia pun menerima piagam penghargaan dan medali dari Menteri P dan K pada 22 Februari 1983.

Saat aktif dalam pemugaran Candi Borobudur itu pula, ia berkenalan dengan ahli purbakala, Dra Sri Wuryani yang kemudian menikahinya tahun 1964. Pernikahan ini dikaruniai tiga anak, yaitu Vedy, Niya, dan Ista.

Dia dan keluarganya hidup bersahaja. Kebersahajaan itu tercermin dari kegemarannya berbaju batik atau lurik dengan alas kaki sepatu sandal, serta pilihan hidupnya menjadi dosen. Penggemar olahraga renang dan menyapu lantai atau halaman rumah, ini memulai kariernya sebagai pengajar di ITB sejak 1 September 1959, hingga menjadi seorang profesor. Setelah 45 tahun mengabdi, dia mengaku gaji pokok seorang profesor hanya Rp 1.447.700.

Maka, selain mengajar di ITB, ia pun mengajar di berbagai perguruan tinggi lainnya, seperti di Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung, STT Nasional Yogyakarta, Universitas Pakuan (Unpak) Bogor dan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung.

Di kalangan mahasiswanya, ia dikenal sebagai dosen yang disiplin dan "galak". Padahal, kalau di rumah, menurut pengakuan Niya, anak keduanya, tidak pernah marah. Di mata anak-anaknya, sang ayah terkesan paling senang kalau diajak makan di warung tenda. Jika ada pengamen, ia biasanya meminta dua sampai tiga lagu. Setelah itu pengamennya diajak makan bareng. Akan tetapi, kalau pengamennya waria, malah diminta cepat-cepat pergi.

Gaya dan semangat hidupnya bersahaja, hangat dan energik walau usianya sudah mencapai 70 tahun. Dalam usia 60 tahun, ia masih mampu mendaki puncak Cartenz di Pegunungan Jayawijaya, Irian Jaya. Seperti tidak mengenal lelah, dia selalu bersemangat menanamkan kepedulian masyarakat terhadap alam melalui ilmu pengetahuan geologi.

Sejak tahun 1970, ia turut menerapkan ilmu geologi dalam berbagai bidang pembangunan. Seperti geologi untuk bendungan, jalan raya, longsoran, pengadaan air bersih, pengembangan wilayah dan kota, serta lokasi pembuangan sampah padat. Selama 37 tahun sejak tahun 1963, dia mengaplikasikan keahliannya di bidang geologi teknik, sebagai tenaga ahli di Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Barat.

Dia juga aktif dalam Kelompok Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Pariwisata (KPPLH dan KPPPar-ITB). Hasil penelitian dan pemikirannya tentang geologi teknik dan lingkungan tersebut tersebar di berbagai media.
Dia memang punya kemampuan menulis secara populer. Di berbagai media, Sampurno menulis dengan bahasa yang sederhana, mudah dan enak dicerna oleh pembaca awam sekalipun, sehingga ilmu pengetahuan geologi itu lebih membumi.

Dia pun sangat beruntung memiliki pasangan hidup, isteri, yang ahli purbakala. Secara tertib, isterinya selalu menyimpan tulisan-tulisan tersebut, baik berupa hasil penelitian maupun kliping surat kabar dan foto-fotonya. Kemudian oleh anak-anaknya, kumpulan tulisan itu dibukukan.

Telah terbit dalam dua jilid, yakni Kilas Balik Pelangi Kehidupan Sampurno dan Jejak Langkah Geologi. Kedua buku itu memperlihatkan kecintaannya terhadap geologi lingkungan. Diluncurkan pada pelepasannya sebagai guru besar ITB, 18 Desember 2004, setelah hampir setengah abad merintis aktivitas pemikirannya. Namun, sebagai guru, dia mengaku, tak mengenal pensiun. Menurutnya, pensiun sebagai guru besar di ITB, merupakan awal untuk melanjutkan perjalanannya di tempat lain. ►e-ti/mlp

BIOGRAFI


Nama : Profesor Dott Sampurno
Lahir : Semarang, 2 Desember 1934
Isteri : Dra Sri Wuryani (menikah tahun 1964)
Anak : Vedy, Niya, dan Ista.
Ayah : M Koetojo
Ibu : Ny Moendijah

Pendidikan:
= Jurusan Geologi FIPIA Universitas Indonesia (UI), kini ITB, tahun 1954
= Dottore in scienze geologiche dari Facolta di Scienae Universitas Degli Studi, Padova, Italia dengan tesis berjudul Studio Petrografico della zona di Contatto di Val San Valentino, Adamello.

Karier:
= Dosen di ITB sejak 1 September 1959, hingga menjadi seorang profesor, pensiun 18 Desember 2004
= Dosendi Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung
= Sosen STT Nasional Yogyakarta
= Dosen Universitas Pakuan (Unpak) Bogor
= Dosen Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung

Kegiatan Lain:
= Tenaga ahli di Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Barat, selama 37 tahun sejak tahun 1963
= Aktif dalam Kelompok Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Pariwisata (KPPLH dan KPPPar-ITB)
= Aktif menulis di berbagai media

Penghargaan:
Piagam penghargaan dan medali dari Menteri P dan K pada 22 Februari 1983 atas jasanya dalam pemugaran Candi Borobudur

Sumber:
Kompas Rabu, 05 Januari 2005, Her Suganda, Anggota Forum Wartawan dan Penulis Jawa Barat/FWJB


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)